Akan ada hari dimana mengikhlaskan jauh lebih mulia daripada
memperjuangkan.
Yang tidak lagi menyapa, melihat, atau mendengarkan suara
lembut itu.
Tidak bisa lagi hadir dalam suasana bahagia itu.
Selalu mengingat hujan, akan datang saat bersamaan.
Kebersamaan itu telah kita lalui, tidak untuk kita sesali. Ketika aku mulai
melangkah pasti, memutuskan perjalanan ini tidak untuk berjalan bersama. Aku masih
jelas mengingatmu, mengingat banyak penawaranmu dan peran terbaikmu.
Hari yang terus berlalu akan tetap sama.
Menjemput sinar mentari dan menghantarkan senja sore hari.
Begitulah sejatinya hidup yang terus berjalan.
Tidak perlu meributkan kata “maaf” dan “terima kasih”.
Karena hidup perlu toleransi.
Semua akhir cerita
bukan aku yang menentukan, bukan kamu, bukan mereka. Butuh banyak kejadian yang
akan mengarahkan kita menuju penghujung keputusan. Kita yang pernah hidup akan
berakhir di sisi-Nya. Menjalani untuk kesekian kali, tetap saja menjadi teka
teki, kita yang akan sama sama bahagia, dengan jalan masing-masing.
