Senin, 29 Agustus 2016

You are...


Masih dalam kondisi yang sama,
Sampai hari ini,
Semoga baik-baik saja,
Tanpa harus banyak cerita..

Bukan pertanyaan kapan akan memulai tapi kapan semua itu telah menjadi permulaan.
Di tempat ini, di kota ini..
Saat tanah menyampaikan pesan dari hujan semalam, membuat rekaman dalam memori yang dapat tergambar dengan jelas.

Aku diam, karena aku sedang belajar. Aku akan berkomentar setelah aku dapat melakukan. Menggambar sketsa jauh lebih rumit daripada menggores pilihan warna cat.

Nada bicara yang lebih mudah diingat daripada wangi parfumnya. Seolah burung yang hinggap pada ranting pohon itu merasa tertarik untuk ikut mendengarkan. Kalimat bijak dengan susunan kata sederhana. Adalah sebuah doa yang selalu indah untuk putri kecilnya.

Dan kini..
Senyuman hangat itu yang selalu aku rindukan. Senyuman hangat seorang laki-laki pendiam berumur 60 tahun. Ayah..  ^,^

Senin, 08 Agustus 2016

kakek & nenek

Andaikan aku bisa melihat senyuman hangat dari sebuah hati, maka akan selamanya aku membuatnya tersenyum..

Suatu hari di sebuah stasiun..

Pemandangan sederhana yang hanya segelintir orang memperhatikan. Seorang laki-laki yang dulunya gagah, ganteng, keren, romantis, lucu, bijak (mungkin) dan sekarang telah bermetamorfosis menjadi laki-laki dengan senyuman hangat dan rambut yang putih.

Tanpa sengaja, pemandangan itu cukup menarik untuk aku perhatikan. Dia sedang bersama dengan seorang wanita yang sangat cantik, anggun, ramah, dan seringkali disapa dengan sebutan nenek.
Saat itu, tangan kakek yang terlihat keriput mennggandeng tangan nenek yang mungil. Seolah tidak ingin aku melewatkan pemandangan itu. Mereka menyeberang rel kereta langkah demi langkah..
Di setiap langkah kaki perjalanan mereka, selalu ada senyum kebahagiaan. Dan hatiku seolah ikut tersenyum.

Kakek mengajak nenek untuk duduk pada kursi tunggu yang kosong, aku masih menjadikan mereka pemandangan istimewa hari itu. Kakek beranjak dari kursi dan kembali membawa sebotol air putih. Kakek duduk kembali dan mengelus kepala nenek dengan lembut. Saat itu nenek pun meminumnya pelan. Nenek mengacungkan air putih dengan maksud agar kakek juga meminumnya. Kakek mendekatkan mulutnya dan tersenyum bahagia. 

Aku memperhatikan lebih seksama lagi, dan dari situlah aku baru paham. Entah hal baik apa yang Tuhan rencanakan bahwa penglihatan nenek tidak lagi berfungsi. Sungguh seolah darah mengalir begitu deras. Tidak ada larangan kebahagiaan untuk mereka yang memiliki kekurangan.

Senyuman terhangat yang tak lagi bisa terlihat namun akan selalu ada untuk dirasakan. Kebahagiaan mereka yang begitu sederhana meski hanya berjalan kaki berdua dan meminum sebotol air putih. Sungguh skenario yang tidak banyak orang tau namun sangat bermakna.

Seolah tak ingin menganggu kebahagiaan mereka, aku hanya terus menikmati pemandangan itu. Entah apa yang mereka bicarakan, dengan semangatnya kakek bercerita dan nenek menanggapinya dengan penuh senyuman. Mungkin, mereka berpikir hanya ada mereka berdua disana. Menikmati senja pada sebuah stasiun kereta. Rasanya ingin sekali aku bertanya, kemanakah mereka akan pergi?
Dan aku membuat jawabannya sendiri, mereka pergi menengok anak cucu mereka

Adalah sebuah pemandangan biasa bagi yang melihatnya biasa. Adalah pemandangan yang istimewa bagi yang mampu memaknainya.

Dalam kereta perjalanan pulang, pikiranku masih merekam jelas nenek dan kakek. Seolah semua seperti alarm dari Tuhan untuk senantiasa mensyukuri kebahagiaan. Mengingat kembali kedua orang tua  yang tak pernah lelah menantikan kepulangan kita dan rindu akan kehadiran kita.
Dan semogaaa Tuhan menjaga orang tua kita dengan baik, hingga saatnya nanti kita akan memberikan kebahagiaan lebih dari kebahagiaan yang mereka berikan. 

Karena memberikan yang lebih itu menyenangkan (^,^)