Kamis, 09 Maret 2017

buku cerita kita




Akan selalu ada catatan tentang kamu, tentang aku, tentang kita, dan juga tentang mereka. Dan si penulis cerita tidak selalu meminta persetujuan akan tokoh yang ia ceritakan. Lebih berhak untuk diam menuliskan atau mungkin akan ikut melibatkan. Kita tidak pernah tahu akan kepastian, karena si pembuat cerita punya pesan tersendiri. Memainkan peran para tokoh pilihan.

Sore itu, masih dengan nuansa syahdu. Di bawah pohon besar, yang selalu memberikan kesejukan. Kami tersenyum bersama, dan ketahuilah.. aku adalah sosok tokoh utama, dalam bagian ini.
Tidak banyak yang kami lakukan, aku memandang matanya yang terus berbicara. Seolah mengatakan “hari ini aku bahagia”. Dan aku tersenyum akan hal itu, tak ingin rasanya melewatkan kebersamaan penuh kehangatan. 

Memandangnya penuh kedamaian, oleh pancaran sinar matahari yang menghangatkan wajah. Pemandangan yang sungguh tak pernah membuatku bosan. Aku yang terus saja menantikan, senyuman hangat bersama gurauan.
Seketika aku yang lebih banyak diam karena dia mulai membacakan cerita. Namun, cerita itu tidak terselesaikan karena aku yang harus melanjutkan. Aku paham, dan aku mulai menuliskan cerita lanjutan. Aku lah penulis cerita itu, sekarang. Aku menceritakan segala hal yang membuatku senang. Tak satupun ada hal buruk atau hal menyedihkan yang aku ceritakan. Karena aku selalu menginginkan akhir kebahagiaan.

Aku yang selalu ingin menepati janji. 
Di tempat itu, aku duduk menantikan datangnya seorang tokoh yang aku ceritakan. Di bawah pohon besar yang dekat dengan rel kereta. Aku yang dulunya benci tempat itu, karena aku selalu saja merasa bising dengan suara kereta yang sesekali lewat. Namun, dia sangat menyukai tempat  ini.
Sudah cukup lama aku duduk menantikan, hingga akhirnya tidak juga muncul tokoh utama dalam cerita yang aku tuliskan. Tiba-tiba saja, datanglah gadis kecil berkaca mata. Dengan polosnya dia menyerahkan sebuah buku, yang sangat aku kenal sampulnya. Ya, buku yang kemarin dia bacakan. Gadis kecil itu pergi dan memintaku untuk membacanya. Ternyata dia benar, belum ada lanjutan cerita dalam buku itu. Hanya saja dalam halaman terakhir buku tertuliskan :
aku tidak sanggup melanjutkan cerita tentangku, tentang kamu, tentang kita, atau mungkin tentang mereka. Aku ingin kamu yang menuliskannya. Tuliskan kebahagiaanmu meski tidak lagi menjumpaiku sebagai tokoh utama dalam hidupmu. Namun ketahuilah, kamu selalu menjadi tokoh utama dalam ceritaku.”

Dan tidak ada lagi cerita selanjutnya. 

Kepergian yang tidak aku mengerti alasannya, Tuhan yang telah mengambilnya,  tokoh utama cerita hidupku. Terima kasih Tuhan, karena sempat menghadirkan dia dalam cerita masa laluku. Semoga akan ada tempat terbaik untuknya, disisi-Mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar