Pada dasarnya kamu yang pelupa
Bahwa kamu sedang berpura pura,
Menyembunyikan rasa duka
Bahagia itu kita yang menciptakan, memanipulasi, dan
merencanakan.
Bersyukur itu, kita yang menentukan dan kita yang menikmati.
Kenyamanan itu, kita yang mampu merasakan.
Kamu lebih paham dengan drama kehidupan yang kamu
mainkan.
Sore ini, bunga di samping rumah mulai mengering dan layu. Tidak
lagi terlihat segar nan hijau. Pemandangan yang tidak biasanya terlihat. Kamu bergegas
memperhatikan dan meletakkan secangkir teh panas pada sudut teras rumah. Sesaat
kenangan masa kecil itu berkeliaran dalam pikiranmu. Kamu mulai merapikan
lembar demi lembar kejadian.
“ketika aku kecil tak pernah sedikitpun aku perduli akan
bunga-bunga di samping rumah yang sampai saat ini masih tumbuh disana. Aku hanya
ingin bisa bermain dan makan es krim. Tapi, waktu membuatku melakukan banyak
hal, aku mulai memperhatikan yang tidak biasanya terjadi. Aku mulai menyadari
adanya bunga di samping rumah ketika ia tidak lagi tumbuh dan mulai layu.”
Kamu kembali dengan secangkir teh. Tanpa kamu sadari angin
senja telah mendinginkan teh panasmu. Kamu tetap meminumnya dan pura-pura
menikmatinya walaupun kamu tahu teh panas itu tidak lagi nyaman.
Dan dibalik kata “baik-baik saja” dari orang dewasa ada rasa
tidak nyaman yang dia rasakan. Hanya saja dia merasa enggan untuk mengatakan
dan pura-pura tidak mengingatnya.
Dibalik senyum bahagia orang dewasa ada kesedihan yang
berusaha tidak ia nikmati.
Hidup itu selalu adil, namun orang dewasa suka berbuat
curang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar