Rabu, 29 November 2017

bunga dan teh


Kamu yang terlihat bahagia
Pada dasarnya kamu yang pelupa
Bahwa kamu sedang berpura pura,
Menyembunyikan rasa duka

Bahagia itu kita yang menciptakan, memanipulasi, dan merencanakan.
Bersyukur itu, kita yang menentukan dan kita yang menikmati.
Kenyamanan itu, kita yang mampu merasakan.
Kamu lebih paham dengan drama kehidupan yang kamu mainkan.

Sore ini, bunga di samping rumah mulai mengering dan layu. Tidak lagi terlihat segar nan hijau. Pemandangan yang tidak biasanya terlihat. Kamu bergegas memperhatikan dan meletakkan secangkir teh panas pada sudut teras rumah. Sesaat kenangan masa kecil itu berkeliaran dalam pikiranmu. Kamu mulai merapikan lembar demi lembar kejadian.


“ketika aku kecil tak pernah sedikitpun aku perduli akan bunga-bunga di samping rumah yang sampai saat ini masih tumbuh disana. Aku hanya ingin bisa bermain dan makan es krim. Tapi, waktu membuatku melakukan banyak hal, aku mulai memperhatikan yang tidak biasanya terjadi. Aku mulai menyadari adanya bunga di samping rumah ketika ia tidak lagi tumbuh dan mulai layu.”

Kamu kembali dengan secangkir teh. Tanpa kamu sadari angin senja telah mendinginkan teh panasmu. Kamu tetap meminumnya dan pura-pura menikmatinya walaupun kamu tahu teh panas itu tidak lagi nyaman.

Dan dibalik kata “baik-baik saja” dari orang dewasa ada rasa tidak nyaman yang dia rasakan. Hanya saja dia merasa enggan untuk mengatakan dan pura-pura tidak mengingatnya.
Dibalik senyum bahagia orang dewasa ada kesedihan yang berusaha tidak ia nikmati.

Hidup itu selalu adil, namun orang dewasa suka berbuat curang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar