Senin, 28 Desember 2015

DIAM!!




Karena kata bermakna tidak akan terucap dengan mudah. Berdiamlah hingga keyakinan dan kepastian itu hadir saat kata itu mulai terucap. Berlebihan dalam ucapan hanya akan menghadirkan janji fiktif yang berat dan terlalu sulit dijalani.

Diamlah...
Karena diammu membuat perasaanmu berbicara lalu dengan mudah akan kamu dengarkan sampai akhirnya kamu mampu beripikir lebih dalam. Diam untuk segera melakukan, bukan diam karena tidak tahu. Bicara secukupnya dengan intonasi nada yang pasti dan sederhana akan lebih sulit dilakukan namun sungguh mulia didengarkan. Maka, diamlah jika keadaan tidak mendukungmu untuk bicara.

Berdiamlah...
Berdiamlah disana jika tak ada lagi ruang kosong untuk bicara. Dan pikiranmu akan mulai bekerja dengan baik, menghadirkan berbagai penawaran untuk setiap pertanyaan. Dan hanya kamu yang tahu semua jawaban itu. Berdiamlah untuk menjadi perasa. Merasakan setiap hembusan nafas, demikian kenyamanan itu akan tercipta dan rasa syukur akan terucap dengan syahdunya. Berdiamlah di tengah bukan di sudut pengharapan. Karena di tengah, kamu akan melihat segalanya dari semua sisi dan di sudut itu segalanya tak akan mampu melihatmu. Berdiamlah di tengah, bukan sebagai perlawanan atau kesombongan namun sebagai pembuktian akan keberanian.

Diam-diam...
Inilah yang lebih baik dilakukan. Diam-diam menyimpan perasaan. Lakukan penyampaian terbaik hanya kepada Dia yang Maha Tahu akan segala jawaban. Rangkailah menjadi sebuah doa terindah, hingga dia yang kita doakan merasa beruntung jika mendengarnya. Diam-diam untuk mendoakan, diam-diam mengamati, dan diam-diam menjaga perasaan kita.

Dan kami, saling terdiam...
Menatap tanpa mampu berkata, berdiam dengan sapaan yang tak mampu tersampaikan. Itulah kami, kami yang tak akan pernah tahu kapan akan dipertemukan. Hanya mampu terdiam tanpa perlawanan, karena kami meyakini sebuah kepercayaan. Sesungguhnya kami hadir untuk kebersamaan yang terencana. Dan...siapakah kami? Kami adalah mereka.

Mereka yang selalu mampu menjaga dan memaknai diamnya dalam setiap doa. Dengan penjagaan sempurna untuk sebuah hal istimewa yang indah diucapkan dan merdu didengarkan. Berdiamlah untuk memulai kebahagiaan. karena kebahagiaan akan senantiasa berikatan, dengan sempurna... :)

Senin, 09 November 2015

Masa Terbahagia



Ketika sebuah pertanyaan muncul, kapankah kamu merasa bahagia? Mungkin sebagian besar hati kita akan menjawab, ketika aku sedang merasa jatuh cinta, karena semua terasa menyenangkan. Bahkan hal yang tidak biasanya aku lakukan pun, pada akhirnya menjadi kebiasaan. Itulah jatuh cinta yang pada umumnya dirasa oleh setiap insan.

Tapi,,pernahkah kita berusaha menyadari bahwa sebagian kecil hati kita menjawab. Saat paling membahagiakan adalah saat aku masih kecil dan saat aku hanya menghabiskan waktu untuk bermain. Ya, itulah masa terbahagia yang sebenarnya. Karena di masa itu, kita tidak akan tahu apa artinya sakit hati. Kita tidak tahu apa artinya penghianatan. Apa artinya perjuangan. Yang kita tahu hanyalah, bohong itu dosa. Dan sakit itu menangis.

Di masa itu, orang yang paling kita sayang adalah ibu, dan orang yang menjadi pelarian adalah ayah. Merekalah orang yang membuat kita takut untuk ditinggalkan. Namun, semakin dewasa semua akan berubah. Kita mulai mengenal oran lain, orang asing yang dengan “lucunya” membuat kita takut kehinlangan dia. Padahal, berapa lama kita mengenal dia dibandingkan dengan kedua orang tua kita?

Ingat ketika masa bahagia itu, membuat kita ingin mengulang waktu itu kembali dan tidak ingin melewatkannya satu detik pun. Saat kita bermain bersama teman kita, kemudian kita terjatuh, yang sakit hanyalah fisik kita. kemudian kita pulang, disambut hangat oleh orang tua kita, terutama ibu, dan dia membelikan kita es krim yang besar agar kita berhenti menangis. Jika kita menyadarinya, betapa bahagianya kita saat itu. Saat dimana kita tidak punya masalah yang harus kita selesaikan sendiri. Tidak punya perasaan yang mungkin sering tersakiti.

Namun,,masa terbahagia itu kini  telah terlewati. Dan baru kita rindukan saat ini. Di saat kita semakin dewasa dan dihadapkan dengan berbagai masalah, bahkan walaupun teman kita, saudara kita, atau bahkan orang tua kita membelikan kita es krim sebesar apapun, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Yang mampu menyelesaikannya adalah diri kita sendiri. Kita yang bisa mengambil keputusan dan kita akan tahu konsekuensinya.


Sebesar apapun masalah yang ada dalam hidup kita saat ini, ingatlah bahwa kita pernah melewati masa terbahagia. Dan masa itu akan kembali terulang jika kita mampu menciptakannya. Janganlah selalu berpikr bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya tidak pernah ada. Sebenarnya kebahagiaan yang sesungguhnya sudah pernah ada, sudah pernah diberikan, hanya saja bagaimana kita bisa mengulanginya kembali dengan cara kita. Bukan cara orang lain maupun dengan menjadi orang lain. :)

Jumat, 06 November 2015

Hujan itu romantis



Karena hujan selalu dirindukan oleh mereka yang punya cerita. Karena hujan selalu menciptakan sebuah keakraban. Karena hujan mampu mendamaikan suasana hati dan pikiran.
Hujan yang baru saja pergi selalu meninggalkan bau khas tanah basah. Dengan semilir angin yang menjadi penyampai pesan alam maka mereka akan tahu hujan baru saja tiba.

Percaya atau tidak, hujan itu pencipta suasana romantis. Hujan akan selalu menghadirkan kebersamaan dan kehangatan. Mereka akan lebih memilih berkumpul bersama keluarga di dalam rumah sederhana mereka, bercerita tentang hari ini dan minum teh bersama. Sungguh, hujan itu romantis. Suasana inilah yang dirindukan oleh setiap keluarga kecil yang sibuk dengan aktifitasnya. Hujan akan selalu mengingatkan kita kepada rumah tinggal kita. karena dimanapun kita, saat hujan tiba selalu ada rasa ingin kembali ke rumah untuk sekedar berteduh hingga hujan itu reda. Karena rumah adalah tempat berteduh yang selalu menjadi tujuan.

Karena hujan, semua akan berbagi cerita.
Jika hujan turun, tidak banyak kesibukan yang bisa dilakukan. Mereka lebih memilih untuk tinggal di tempat bersama orang yang mereka sayang dan saling berbagi cerita.
Setiap hujan datang, akan ada cerita dari setiap mereka yang menikmatinya. Hujan adalah pemberi keteduhan. Dan karena hujan semua akan bicara. Bicara akan apa yang menjadi harapan. Hujan membuat mereka ingat akan penciptanya.

Meskipun celoteh anak-anak itu tidak terdengar lagi di samping rumah, percayalah mereka sedang berceloteh bersama orang tua mereka di dalam kehangatan rumah. 

Hujan pencipta suasana romantis antara kita. Kita yang entah kapan akan bersama. Karena hujan membuat aku mampu meluangkan waktu untuk sejenak memikirkan kehidupan yang harus terus aku jalani. Dan jalan itu tidak mungkin mampu aku lewati sendiri, aku butuh kalian yang selalu hadir di kala hujan itu datang.

Hujan pencipta suasana romantis karena adanya kita. Bukan hanya aku dan kamu, tapi juga mereka.
Dan kalian, tetaplah bersamaku saat hujan turun.

Selasa, 27 Oktober 2015

Tetaplah terjaga



Hai hati, apa kabar? Sepertinya sudah lama tidak menyapamu. Tetaplah baik disana ya? Sabarlah disana, dan tetaplah menjadi hati yang selalu ikhlas. Karena ikhlasmu sangatlah dirindukan setiap pemilik hati. Dan akulah pemilikmu yang selalu merindukan rasa ikhlasmu.
Jika saatnya nanti telah ada, mungkin akan tercipta kedamaian yang selama ini membuatmu senantiasa berharap.

Entah kepada siapa aku harus berharap, tapi yang jelas DIA selalu memberi jawaban terbaik pada waktunya nanti. Dan sekarang, ijinkan aku untuk tetap menjagamu, dan menjadikanmu lebih baik lagi. Karena sekali saja aku menghianatimu, maka aku telah membuat hidupku tidak lagi tertata dengan rapi.

Karena semua ada masanya. Masa dimana aku harus mendapatkan ujian dan masa dimana aku akan menemukan kebahagiaan. karena suara hati itu terlalu lirih, hingga aku pun tidak mampu mendengar apa yang kau katakan. Dan hal ini, membuatku tidak ingin terlalu banyak beraharap. Karena kamu (hati) tidak pernah mau memberiku jawaban dengan sebuah kejelasan. Semua butuh proses, dan kamu (hati) tidak akan pernah menyukai hal yang tidak sesuai dengan masanya.
Terkadang rasa memilikimu itu terlalu naif untuk dilakukan. Ingatkanlah aku jika aku selalu memilikimu. Aku yang harus selalu menjagamu, dan akulah yang mampu mengendalikanmu. Sehingga dengan segera aku akan berkata dengan lantang bahwa “aku sedang bahagia dengan kesederhanaan hati yang aku miliki”.

Sederhana memang, tapi rumit dalam perjalanan. Jika masalah hati mulai muncul, maka semua orang dengan tiba-tiba akan berubah. Tidak peduli dengan resiko yang akan terjadi tidak pula peduli bahwa hati butuh pengertian.

wahai hati yang selalu bersih

tetaplah menjadi bersih, ingatkan aku jika engkau mulai ternodai oleh pikiranku yang tidak seharusnya aku pikirkan. Dan perlakuan yang tidak seharusnya aku lakukan. Jangan pernah engkau diam jika aku mulai memperlakukanmu dengan buruk.

Apa kabar hati yang selalu damai?

Semoga akan selalu damai disana. Biarlah aku selalu mendamaikanmu, dan ingatkanlah aku jika aku mulai membuatmu bersedih atau menyakitimu. Karena jika kamu mulai sakit, entah seperti apa aku harus membuatmu sembuh kembali. Jadi, janganlah pernah engkau mau tersakiti.

Dan, untuk hati yang senantiasa terjaga 

Tetaplah disana, di tempatmu seharusnya ada. Jangan pernah merasa sendiri dan pergi. Karena aku akan selalu menjagamu hingga kau nyaman disana. 

Entah kepada siapa hati ini berharap, tak akan ada jawaban pasti. Karena semua akan ada masanya hingga tiba saatnya hati ini berharap kepada dia yang pantas menjadi harapkan.