Selasa, 29 November 2016

Aku anak Ayah



Anak laki-laki itu namanya  Ghani, banyak bicaranya…lucuuu..ngeyelan, banyak tanya, banyak giginya jugaa.. wkwkwk
Nakal..tapi nyenengin..
Yapp,!! Itulah dia, anak laki-laki berumur 2 tahun
Anak tunggal, hidup bersama ayah dan ibu. Lebih dekat sama ayah, karena memang ia selalu menghabiskan hari-harinya bersama ayah. Ayah yang keren.

“aku mengidolakan Ayah. Bahkan semua yang aku miliki selalu untuk Ayah. Dan yang ada di dunia ini adalah milik Ayah. Itu yang aku tahu. Pemikiran anak berumur 2 tahun.”

Ibunya seorang wanita cantik, lemah lembut, ramah, namun termasuk wanita yang sibuk di kantor.

“aku sayang Ibu, Ibu yang selalu mengajakku mandi pagi dengan air hangat dan memaksakku menyikat gigi. Ibu yang selalu meluangkan waktu untuk segala keperluanku. Ibu kerja di kantor namun sering megajakku liburan di akhir pekan.”

Tidak begitu banyak penjelasan dari seorang anak laki-laki berumur 2 tahun. Ia mengatakan apa yang telah dengan nyata ia saksikan.

“aku punya keluarga yang menyenangkan. Aku punya nenek dan kakek yang baik hati yang tidak pernah lelah menggendongku, yang tidak pernah memarahiku. Aku punya tante yang selalu megajakku berfoto, bernyanyi, dan selalu mengeluh saat menggendongku. Andaikan aku sudah dewasa, aku akan mengatakan betapa bahagianya masa kecilku”

”aku tidak pernah tahu arti bersedih, apa itu sakit, dan aoa itu bahagia. Yang aku tahu aku hanya akan tertawa dan menangis. Dan orang-orang di sekitarku selalu tertawa bahagia saat melihatku bernyanyi atau mendengar aku bercerita. Dan ayah adalah orang yang paling sering merekam segala aktivitasku. Aku tidak paham!
Aku selalu tertawa saat bermain dengan Ayah.”

Anak laki-laki yang selalu menyayangi ayahnya.

“saat orang-orang di sekitarku bertanya, apapun yang ia tanyakan, dan jawabanku selalu saja melibatkan ayah. Aku anak ayah, itu milik ayah, ini rumah ayah, yang nakal ayah, yang baik ayah, yang jahat ayah. Namun ketika ibu yang bertanya aku selalu menjawab semuanya ibu. Itulah aku, anak berumur 2 tahun yang hidup dengan damai bersama orang-orang tercinta.”

Suatu saat… semua harus berubah. Mungkin ayah lelah, mungkin ayah butuh istirahat.

“ibu bertugas ke luar kota. Untuk waktu yang agak lama. Aku dan ayah pulang ke rumah nenek. Menghabiskan waktu disana sementara menunggu kepulangan ibu. Aku sayang nenek. Nenek yang selalu mengajariku bernyanyi.”

Malam yang syahdu ditemani gerimis itu, Ghani bermain dengan Ayah.

“aku bermain dengan Ayah. Aku ingin terus bermain dengan Ayah. Aku ingin selalu bobok di dekat Ayah dan mendengarkan dongeng Ayah. Malam itu aku mendengar Ayah menyanyikan lagu nina bobo, hingga aku tidak lagi ingat lagu terakhir Ayah. Aku terlelap.”

Dan di suatu pagi yang cerah, seolah angin surga berhembus dengan tenang menyampaikan sejuta pesan kepada mereka yang mampu mendengar.

“Ayahh..bangun Yah,! Bikinin susu Yah,! Ayah..bangun,!!
Aku terus berusaha membangunkan ayah yang tidak juga membuka matanya. Mungkin ayah masih ingin istirahat atau mungkin ayah lelah karena semalaman bermain dan bernyanyi untukku. Selamat istirahat ayah..”

Semua telah kembali. Dia memintanya untuk kembali. Tidak ada yang sanggup mencegahnya. Itulah takdir..

“ayah masih terus tertidur, itu yang aku rekam dalam ingatanku. Nenek bilang ayah sakit. Aku percaya! Ibu bilang ayah butuh istirahat, istirahat yang sangat lama, ibu akan selalu nemenin aku. Tapi di hari itu, hari dimana banyak sekali pertanyaan yang aku sendiri tidak memahaminya.
Kenapa banyak orang datang ke rumah?
Kenapa ada banyak tamu berbaju hitam?
Kenapa halaman itu banyak mobil?
Dan kenapa, kenapa banyak orang menangis?
Kenapa mereka selalu menciumku dan menangis melihatku?
Aku masih bingung!

Anak laki-laki berumur 2 tahun yang belum paham arti sebuah kepergian, arti kehilangan, dan arti kematian.

“ibu seharian menggendongku, mengajakku bermain, menyanyikan lagu buatku dengan wajah lelah dan seringkali meneteskan air mata. Ibu bilang ibu lelah karena banyak tamu hari ini. Aku tidak banyak bertanya. Aku menikmati aktivitasku seperti biasa. Sekali lagi, aku tidak paham!”

Penawaran pagi yang tak pernah terlambat datang. Pagi yang selalu menepati janji. Di teras itu, anak laki-laki berumur 2 tahun, bernyanyi dengan riang dengan nada semaunya yang membuat tawa siapapun yang mendengarnya.

“ibu..aku pengen ayah cepet sembuh. Ayah kapan sembuh? Pengen main sama Ayah lagi, ikut sholat di masjid sama Ayah. Kalau sore pengen liat kereta sama Ayah. Ibu tidak memberikan jawaban. Ibu hanya tersenyum. Ibu menciumku.”
“ayah pergi jauh. Ke tempat yang sangat bagus. Tapi ayah gak bias ngajak aku, karena aku masih kecil. Ayah berpesan aku harus jadi anak pinter, aku gak boleh nakal, aku harus selalu sayang ibu, sayang nenek, sayang kakek, sayang semua orang. Meskipun Ayah jauh, ayah tetep ada disini, liatin Ghani main dan nemenin Ghani bobok. Itulah yang akhirnya dikatakan ibu dengan menangis.
Aku tidak paham!”

Andaikan dia bukan lagi anak laki-laki berumur 2 tahun dan paham dengan situasi tersebut.

“aku tidak lagi melihat ayah di sebelahku saat aku terbangun di pagi hari. Aku tidak lagi bermain bersama Ayah. Aku tidak bisa lagi meminta Ayah membuatkan susu. Aku tidak lagi melihat kereta di sore hari. Tidak lagi melihat senyum ayah yang merekam segala aktivitasku. Tidak lagi diajak ke masjid oleh ayah. Tidak lagi mendengar suara ayah, mendengar dongeng ayah, merasakan kehangatan pelukan ayah.
Ayah…Ghani kangen.. baik-baik di surga ya? Di tempat yang ibu bilang sangat jauh. Di tempat yang ibu bilang sangat bagus dan tenang. Di tempat yang ibu bilang membuat ayah bahagia. Di tempat yang ibu bilang hanya untuk orang baik. Di tempat yang tidak bisa kita kunjungi kapan saja. Tapi disana ayah akan selalu tersenyum melihatku. Senyuman hangat yang setiap hari aku lihat, sebanyak yang bisa aku ingat tentang ayah. Ayah masih ada disini. Selalu disini, di dalam hati Ghani.
Terima kasih Tuhan karena sempat menghadirkan Ayah yang keren dalam hidupku, meski hanya dalam waktu 2 tahun, aku membuat cerita bersamanya di dunia ini, tapi aku yakin, kami akan selalu bersama sampai kapanpun. Karena aku anak ayah. Akan selalu menjadi anak ayah.”


Well..begitulah hidup.
Tidak tahu kapan, dimana, dan bagaimana Tuhan akan memanggil kita. Semua sudah menjadi takdir-Nya. Selagi masih ada kesempatan, bahagiakanlah orang-orang di sekitar kita, orang-orang yang kita cintai, dan orang-orang yang ada dalam hidup kita. Doakanlah selalu, mereka yang tidak lagi bisa hadir dalam cerita hidup kita. ^,^

Minggu, 27 November 2016

Entahlah tentang Kita

Kita yang mungkin akan terus seperti ini
Entah sampai kapan permainan akan berakhir
Kita yang tak pernah berani mengakhiri
Entah seperti apa akhirnya
Kita yang terlalu takut membayangkan
Entah kebahagiaan atau kesedihan
Kita yang senantiasa menikmati
Entah bagaimana nanti resikonya
Kita tidak pernah tahu alasannya
Entah ini sandiwara atau ketulusan
Kita hanya terus tersenyum
Entah bagaimana seharusnya
Kita saling menceritakan
Entah siapa yang memulainya

Kita yang tak pernah lupa bahagia
Entah apapun alasannya... ^,^

Senin, 07 November 2016

penentu jalan



 

Siapakah kita?

Jika saja setiap orang tahu jawabannya, maka semua orang akan selalu berhasil mencapai tujuannya. Pemahaman akan jati diri merupakan sebuah penawaran hidup yang sebenarnya.
Semua dikembalikan kepada pribadi masing-masing mengenai arah dan perjalanan seperti apa yang dipilih.



Bukankah Tuhan selalu menjadikan nyata setiap apa yang menjadi prasangka kita?

Begitulah hidup, apa yang tergambarkan dalam pemikiran akan memberikan kekuatan yang keren dalam diri. Namun, ada kalanya hal itu bersifat mustahil jika saja kita tidak pernah berani membayangkannya. Merealisasikan mimpi harus didasari dengan tekad agar semua menjadi lebih dekat.
 
“suatu hari mimpi itu masih tetap sama karena aku tidak berani merealisasikan. Aku masih menyenangi kegiatan yang tidak menyulitkan, sehingga semua yang beresiko aku jadikan mimpi. Mungkin besok atau bahkan besoknya lagi masih akan tetap sama. Hingga aku pun selalu bertanya, mungkinkah hidupku ini hanya akan dipenuhi mimpi?
Aku mulai berusaha mencari jawaban, terus mencari. Hingga akhirnya aku menemukan jalan. Inilah jawaban itu, yang selalu dijanjikan kepada mereka yang berusaha menemukan. Akan terlihat nyata dalam pencarian dan terlihat semu jika hanya dalam impian.”

Seringkali hadir pertanyaan yang sama dan berulang, siapakah aku?
Maka yang sebenarnya akulah yang tahu jawabannya. Jawaban yang akan ditemukan jika memang aku mencarinya. Bagaikan sebuah hadiah yang bisa ditawar dalam setiap perjalanan panjang. Perjalanan yang butuh arah, dan aku penentunya.

Semangatt menjadi penentu jalan, semoga tidak menyesatkan,!!! ^,^


laki-laki dan perempuan dewasa



Well…kali ini aku bikin cerita tentang kisah laki-laki dewasa dan perempuan dewasa. Agak sedikit berbau romantis, tapi yaa…begitulah seharusnya.. ^,^

“if this is my last night with you

Hold me like I’m more than just a friend

Give me e memory I can use

Take me by the hand while we do what lovers do

It matters how this ends

‘cause what if I never love again?”

Sebuah lagu yang dibawakan oleh seorang penyanyi terkenal pastinya
Cukup tersentuh juga kalo play this song, wkwkwk

Tentang seorang laki-laki dewasa dan perempuan dewasa. Entah rencana apa yang telah Tuhan janjikan. Mereka bertemu tanpa ada spesialisasi. Semua berjalan pada layaknya cerita kehidupan. Mereka salling mengenal dan bertukar informasi, hanya itu.

“aku seorang perempuan dewasa
Aku merasa biasa saja, bahkan sangat biasa, aku berusaha professional. Layaknya pertemuanku dengan teman  laki-laki pada umumnya. Tidak ada hal yang aku rasa perlu dispesialkan. Pertemuan itu begitu singkat. Hingga aku cukup sulit mengingat wajahnya. Aku tidak begitu peduli.”

Dan tidak ada cerita yang lebih menarik lagi untuk beberapa saat.

“aku adalah seorang laki-laki dewasa
Yang dengan terkejutnya bertemu lagi dengan perempuan dewasa itu. Aku berusaha professional. Aku tidak kbegitu peduli dengan keberadaannya.”

Untuk pertama kalinya mereka memulai komunikasi dengan cukup baik. Bertukar cerita dan barbagi pengalaman yang membuat mereka merasa cukup tertarik untuk melanjutkan komunikasi.

“aku perempuan dewasa
Aku merasa tidak paham dengan semua kejadian ini. Aku hanya mengikuti alur. Aku berjalan di pingggir kiridan sesuai arah yang benar, menurutku. Berusaha untuk patuh dan tidak melakukan kesalahan. Tapi entah dengan alasan apa, laki-laki dewasa itu selalu mengikuti jalanku, berusaha memahami arah perjalananku. Anehnya, aku tidak sedikitpun merasa takut. Aku merasa nyaman, dan aku mengkhawatirkan jika laki-laki dewasa itu tidak lagi mengawasiku.”


Mereka tidak pernah berjalan berdampingan.


“aku laki-laki dewasa yang tidak cukup paham dengan perasaan.
Aku merasa senang melihatnya. Tidak bermaksud menjadi bagian dari cerita hidupnya karena aku khawatir, suatu saat aku akan melukainya.”

Untuk waktu yang cukup lama mereka bertahan dengan pemikirannya masing-masing.

“aku perempuan dewasa, yang cukup paham dengan perihal ini. Aku tahu semua tidak selalu benar. Tapi aku mampu merasakan walaupun aku tidak pandai menterjemahkan. Ini cukup rumit. Tapi semua aan mudah jika aku menikmati alurnya seperti saat aku masih berjalan sendiri. Seringkali ada pertanyaan, apakah akan ada perasaan seperti ini lagi nanti, esok atau lusa? Entahlah… aku cukup bahagia menjadi alasan dia tersenyum. Sesederhana itu.”

Tidak pernah ada ucapan, kalimat, dan pernyataan apapun. Mereka membuat kisah romantis mereka sendiri-sendiri dengan saling melibatkan peran. Hanya mereka yang tahu. Karena mereka tidak senang ikut campur yang bukan menjadi hak.

“aku seorang laki-laki dewasa yang masih berjalan di belakangnya. Aku tidak cukup berani berjalan di sampingnya. Bahkan kalaupun ia terjatuh, aku hanya mampu melihatnya. Ingin rasanya aku menggandeng tangannya dan membuat cerita dongeng bersama. Tapi, ada satu alasan yang tidak dapat aku jelaskan.”

Dan di akhir ceritaaaa….laki-laki dewasa berkata
“aku takut akan melukaimu”
Perempuan dewasa itu tersenyum dan berkata
“aku akan selalu bahagia menjadi alasanmu tetap tersenyum”