Anak laki-laki itu namanya
Ghani, banyak bicaranya…lucuuu..ngeyelan, banyak tanya, banyak giginya
jugaa.. wkwkwk
Nakal..tapi nyenengin..
Yapp,!! Itulah dia, anak laki-laki berumur 2 tahun
Anak tunggal, hidup bersama ayah dan ibu. Lebih dekat sama
ayah, karena memang ia selalu menghabiskan hari-harinya bersama ayah. Ayah yang
keren.
“aku mengidolakan
Ayah. Bahkan semua yang aku miliki selalu untuk Ayah. Dan yang ada di dunia ini
adalah milik Ayah. Itu yang aku tahu. Pemikiran anak berumur 2 tahun.”
Ibunya seorang wanita cantik, lemah lembut, ramah, namun
termasuk wanita yang sibuk di kantor.
“aku sayang Ibu, Ibu
yang selalu mengajakku mandi pagi dengan air hangat dan memaksakku menyikat
gigi. Ibu yang selalu meluangkan waktu untuk segala keperluanku. Ibu kerja di
kantor namun sering megajakku liburan di akhir pekan.”
Tidak begitu banyak penjelasan dari seorang anak laki-laki
berumur 2 tahun. Ia mengatakan apa yang telah dengan nyata ia saksikan.
“aku punya keluarga
yang menyenangkan. Aku punya nenek dan kakek yang baik hati yang tidak pernah
lelah menggendongku, yang tidak pernah memarahiku. Aku punya tante yang selalu
megajakku berfoto, bernyanyi, dan selalu mengeluh saat menggendongku. Andaikan aku
sudah dewasa, aku akan mengatakan betapa bahagianya masa kecilku”
”aku tidak pernah tahu
arti bersedih, apa itu sakit, dan aoa itu bahagia. Yang aku tahu aku hanya akan
tertawa dan menangis. Dan orang-orang di sekitarku selalu tertawa bahagia saat
melihatku bernyanyi atau mendengar aku bercerita. Dan ayah adalah orang yang
paling sering merekam segala aktivitasku. Aku tidak paham!
Aku selalu tertawa
saat bermain dengan Ayah.”
Anak laki-laki yang selalu menyayangi ayahnya.
“saat orang-orang di
sekitarku bertanya, apapun yang ia tanyakan, dan jawabanku selalu saja
melibatkan ayah. Aku anak ayah, itu milik ayah, ini rumah ayah, yang nakal
ayah, yang baik ayah, yang jahat ayah. Namun ketika ibu yang bertanya aku selalu
menjawab semuanya ibu. Itulah aku, anak berumur 2 tahun yang hidup dengan damai
bersama orang-orang tercinta.”
Suatu saat… semua harus berubah. Mungkin ayah lelah, mungkin
ayah butuh istirahat.
“ibu bertugas ke luar
kota. Untuk waktu yang agak lama. Aku dan ayah pulang ke rumah nenek. Menghabiskan
waktu disana sementara menunggu kepulangan ibu. Aku sayang nenek. Nenek yang
selalu mengajariku bernyanyi.”
Malam yang syahdu ditemani gerimis itu, Ghani bermain dengan
Ayah.
“aku bermain dengan
Ayah. Aku ingin terus bermain dengan Ayah. Aku ingin selalu bobok di dekat Ayah
dan mendengarkan dongeng Ayah. Malam itu aku mendengar Ayah menyanyikan lagu
nina bobo, hingga aku tidak lagi ingat lagu terakhir Ayah. Aku terlelap.”
Dan di suatu pagi yang cerah, seolah angin surga berhembus
dengan tenang menyampaikan sejuta pesan kepada mereka yang mampu mendengar.
“Ayahh..bangun Yah,! Bikinin
susu Yah,! Ayah..bangun,!!
Aku terus berusaha
membangunkan ayah yang tidak juga membuka matanya. Mungkin ayah masih ingin
istirahat atau mungkin ayah lelah karena semalaman bermain dan bernyanyi
untukku. Selamat istirahat ayah..”
Semua telah kembali. Dia memintanya untuk kembali. Tidak ada
yang sanggup mencegahnya. Itulah takdir..
“ayah masih terus
tertidur, itu yang aku rekam dalam ingatanku. Nenek bilang ayah sakit. Aku percaya!
Ibu bilang ayah butuh istirahat, istirahat yang sangat lama, ibu akan selalu
nemenin aku. Tapi di hari itu, hari dimana banyak sekali pertanyaan yang aku
sendiri tidak memahaminya.
Kenapa banyak orang datang
ke rumah?
Kenapa ada banyak tamu
berbaju hitam?
Kenapa halaman itu banyak
mobil?
Dan kenapa, kenapa
banyak orang menangis?
Kenapa mereka selalu
menciumku dan menangis melihatku?
Aku masih bingung!
Anak laki-laki berumur 2 tahun yang belum paham arti sebuah
kepergian, arti kehilangan, dan arti kematian.
“ibu seharian
menggendongku, mengajakku bermain, menyanyikan lagu buatku dengan wajah lelah
dan seringkali meneteskan air mata. Ibu bilang ibu lelah karena banyak tamu
hari ini. Aku tidak banyak bertanya. Aku menikmati aktivitasku seperti biasa. Sekali
lagi, aku tidak paham!”
Penawaran pagi yang tak pernah terlambat datang. Pagi yang
selalu menepati janji. Di teras itu, anak laki-laki berumur 2 tahun, bernyanyi
dengan riang dengan nada semaunya yang membuat tawa siapapun yang mendengarnya.
“ibu..aku pengen ayah
cepet sembuh. Ayah kapan sembuh? Pengen main sama Ayah lagi, ikut sholat di
masjid sama Ayah. Kalau sore pengen liat kereta sama Ayah. Ibu tidak memberikan
jawaban. Ibu hanya tersenyum. Ibu menciumku.”
“ayah pergi jauh. Ke tempat
yang sangat bagus. Tapi ayah gak bias ngajak aku, karena aku masih kecil. Ayah berpesan
aku harus jadi anak pinter, aku gak boleh nakal, aku harus selalu sayang ibu,
sayang nenek, sayang kakek, sayang semua orang. Meskipun Ayah jauh, ayah tetep
ada disini, liatin Ghani main dan nemenin Ghani bobok. Itulah yang akhirnya
dikatakan ibu dengan menangis.
Aku tidak paham!”
Andaikan dia bukan lagi anak laki-laki berumur 2 tahun dan
paham dengan situasi tersebut.
“aku tidak lagi
melihat ayah di sebelahku saat aku terbangun di pagi hari. Aku tidak lagi
bermain bersama Ayah. Aku tidak bisa lagi meminta Ayah membuatkan susu. Aku tidak
lagi melihat kereta di sore hari. Tidak lagi melihat senyum ayah yang merekam
segala aktivitasku. Tidak lagi diajak ke masjid oleh ayah. Tidak lagi mendengar
suara ayah, mendengar dongeng ayah, merasakan kehangatan pelukan ayah.
Ayah…Ghani kangen..
baik-baik di surga ya? Di tempat yang ibu bilang sangat jauh. Di tempat yang
ibu bilang sangat bagus dan tenang. Di tempat yang ibu bilang membuat ayah
bahagia. Di tempat yang ibu bilang hanya untuk orang baik. Di tempat yang tidak
bisa kita kunjungi kapan saja. Tapi disana ayah akan selalu tersenyum
melihatku. Senyuman hangat yang setiap hari aku lihat, sebanyak yang bisa aku
ingat tentang ayah. Ayah masih ada disini. Selalu disini, di dalam hati Ghani.
Terima kasih Tuhan karena sempat menghadirkan Ayah yang keren dalam hidupku, meski hanya
dalam waktu 2 tahun, aku membuat cerita bersamanya di dunia ini, tapi aku yakin,
kami akan selalu bersama sampai kapanpun. Karena aku anak ayah. Akan selalu
menjadi anak ayah.”
Well..begitulah hidup.
Tidak tahu kapan, dimana, dan bagaimana Tuhan akan memanggil
kita. Semua sudah menjadi takdir-Nya. Selagi masih ada kesempatan,
bahagiakanlah orang-orang di sekitar kita, orang-orang yang kita cintai, dan
orang-orang yang ada dalam hidup kita. Doakanlah selalu, mereka yang tidak lagi
bisa hadir dalam cerita hidup kita. ^,^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar