Well…kali ini aku bikin cerita tentang kisah
laki-laki dewasa dan perempuan dewasa. Agak sedikit berbau romantis, tapi yaa…begitulah
seharusnya.. ^,^
Hold
me like I’m more than just a friend
Give
me e memory I can use
Take
me by the hand while we do what lovers do
It
matters how this ends
‘cause
what if I never love again?”
Sebuah lagu yang dibawakan oleh seorang penyanyi
terkenal pastinya
Cukup tersentuh juga kalo play this song, wkwkwk
Tentang seorang laki-laki dewasa dan perempuan
dewasa. Entah rencana apa yang telah Tuhan janjikan. Mereka bertemu tanpa ada
spesialisasi. Semua berjalan pada layaknya cerita kehidupan. Mereka salling
mengenal dan bertukar informasi, hanya itu.
“aku
seorang perempuan dewasa
Aku
merasa biasa saja, bahkan sangat biasa, aku berusaha professional. Layaknya pertemuanku
dengan teman laki-laki pada umumnya. Tidak
ada hal yang aku rasa perlu dispesialkan. Pertemuan itu begitu singkat. Hingga aku
cukup sulit mengingat wajahnya. Aku tidak begitu peduli.”
Dan tidak ada cerita yang lebih menarik lagi untuk
beberapa saat.
“aku
adalah seorang laki-laki dewasa
Yang
dengan terkejutnya bertemu lagi dengan perempuan dewasa itu. Aku berusaha professional.
Aku tidak kbegitu peduli dengan keberadaannya.”
Untuk pertama kalinya mereka memulai komunikasi
dengan cukup baik. Bertukar cerita dan barbagi pengalaman yang membuat mereka
merasa cukup tertarik untuk melanjutkan komunikasi.
Aku
merasa tidak paham dengan semua kejadian ini. Aku hanya mengikuti alur. Aku berjalan
di pingggir kiridan sesuai arah yang benar, menurutku. Berusaha untuk patuh dan
tidak melakukan kesalahan. Tapi entah dengan alasan apa, laki-laki dewasa itu
selalu mengikuti jalanku, berusaha memahami arah perjalananku. Anehnya, aku tidak
sedikitpun merasa takut. Aku merasa nyaman, dan aku mengkhawatirkan jika
laki-laki dewasa itu tidak lagi mengawasiku.”
Mereka tidak pernah berjalan berdampingan.
“aku
laki-laki dewasa yang tidak cukup paham dengan perasaan.
Aku
merasa senang melihatnya. Tidak bermaksud menjadi bagian dari cerita hidupnya
karena aku khawatir, suatu saat aku akan melukainya.”
Untuk waktu yang cukup lama mereka bertahan dengan
pemikirannya masing-masing.
“aku
perempuan dewasa, yang cukup paham dengan perihal ini. Aku tahu semua tidak
selalu benar. Tapi aku mampu merasakan walaupun aku tidak pandai
menterjemahkan. Ini cukup rumit. Tapi semua aan mudah jika aku menikmati
alurnya seperti saat aku masih berjalan sendiri. Seringkali ada pertanyaan,
apakah akan ada perasaan seperti ini lagi nanti, esok atau lusa? Entahlah… aku
cukup bahagia menjadi alasan dia tersenyum. Sesederhana itu.”
Tidak pernah ada ucapan, kalimat, dan pernyataan
apapun. Mereka membuat kisah romantis mereka sendiri-sendiri dengan saling
melibatkan peran. Hanya mereka yang tahu. Karena mereka tidak senang ikut
campur yang bukan menjadi hak.
“aku
seorang laki-laki dewasa yang masih berjalan di belakangnya. Aku tidak cukup
berani berjalan di sampingnya. Bahkan kalaupun ia terjatuh, aku hanya mampu
melihatnya. Ingin rasanya aku menggandeng tangannya dan membuat cerita dongeng
bersama. Tapi, ada satu alasan yang tidak dapat aku jelaskan.”
Dan di akhir ceritaaaa….laki-laki dewasa berkata
“aku
takut akan melukaimu”
Perempuan dewasa itu tersenyum dan berkata
“aku
akan selalu bahagia menjadi alasanmu tetap tersenyum”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar