Senin, 07 November 2016

laki-laki dan perempuan dewasa



Well…kali ini aku bikin cerita tentang kisah laki-laki dewasa dan perempuan dewasa. Agak sedikit berbau romantis, tapi yaa…begitulah seharusnya.. ^,^

“if this is my last night with you

Hold me like I’m more than just a friend

Give me e memory I can use

Take me by the hand while we do what lovers do

It matters how this ends

‘cause what if I never love again?”

Sebuah lagu yang dibawakan oleh seorang penyanyi terkenal pastinya
Cukup tersentuh juga kalo play this song, wkwkwk

Tentang seorang laki-laki dewasa dan perempuan dewasa. Entah rencana apa yang telah Tuhan janjikan. Mereka bertemu tanpa ada spesialisasi. Semua berjalan pada layaknya cerita kehidupan. Mereka salling mengenal dan bertukar informasi, hanya itu.

“aku seorang perempuan dewasa
Aku merasa biasa saja, bahkan sangat biasa, aku berusaha professional. Layaknya pertemuanku dengan teman  laki-laki pada umumnya. Tidak ada hal yang aku rasa perlu dispesialkan. Pertemuan itu begitu singkat. Hingga aku cukup sulit mengingat wajahnya. Aku tidak begitu peduli.”

Dan tidak ada cerita yang lebih menarik lagi untuk beberapa saat.

“aku adalah seorang laki-laki dewasa
Yang dengan terkejutnya bertemu lagi dengan perempuan dewasa itu. Aku berusaha professional. Aku tidak kbegitu peduli dengan keberadaannya.”

Untuk pertama kalinya mereka memulai komunikasi dengan cukup baik. Bertukar cerita dan barbagi pengalaman yang membuat mereka merasa cukup tertarik untuk melanjutkan komunikasi.

“aku perempuan dewasa
Aku merasa tidak paham dengan semua kejadian ini. Aku hanya mengikuti alur. Aku berjalan di pingggir kiridan sesuai arah yang benar, menurutku. Berusaha untuk patuh dan tidak melakukan kesalahan. Tapi entah dengan alasan apa, laki-laki dewasa itu selalu mengikuti jalanku, berusaha memahami arah perjalananku. Anehnya, aku tidak sedikitpun merasa takut. Aku merasa nyaman, dan aku mengkhawatirkan jika laki-laki dewasa itu tidak lagi mengawasiku.”


Mereka tidak pernah berjalan berdampingan.


“aku laki-laki dewasa yang tidak cukup paham dengan perasaan.
Aku merasa senang melihatnya. Tidak bermaksud menjadi bagian dari cerita hidupnya karena aku khawatir, suatu saat aku akan melukainya.”

Untuk waktu yang cukup lama mereka bertahan dengan pemikirannya masing-masing.

“aku perempuan dewasa, yang cukup paham dengan perihal ini. Aku tahu semua tidak selalu benar. Tapi aku mampu merasakan walaupun aku tidak pandai menterjemahkan. Ini cukup rumit. Tapi semua aan mudah jika aku menikmati alurnya seperti saat aku masih berjalan sendiri. Seringkali ada pertanyaan, apakah akan ada perasaan seperti ini lagi nanti, esok atau lusa? Entahlah… aku cukup bahagia menjadi alasan dia tersenyum. Sesederhana itu.”

Tidak pernah ada ucapan, kalimat, dan pernyataan apapun. Mereka membuat kisah romantis mereka sendiri-sendiri dengan saling melibatkan peran. Hanya mereka yang tahu. Karena mereka tidak senang ikut campur yang bukan menjadi hak.

“aku seorang laki-laki dewasa yang masih berjalan di belakangnya. Aku tidak cukup berani berjalan di sampingnya. Bahkan kalaupun ia terjatuh, aku hanya mampu melihatnya. Ingin rasanya aku menggandeng tangannya dan membuat cerita dongeng bersama. Tapi, ada satu alasan yang tidak dapat aku jelaskan.”

Dan di akhir ceritaaaa….laki-laki dewasa berkata
“aku takut akan melukaimu”
Perempuan dewasa itu tersenyum dan berkata
“aku akan selalu bahagia menjadi alasanmu tetap tersenyum”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar