Senja, akan selalu terlihat sama, indah dan menghangatkan.
Senja, akan selalu terasa sama, sebentar dan dirindukan. Senja yang tak pernah
berhenti untuk dinantikan.
Pemandangan paling romantis yang membuatku iri. Di sebuah
taman, tidak banyak bunga warna warni, tidak ada bunga mawar, tidak juga bunga
teratai yang menghiasi danau. Hanyalah sebuah taman kecil dengan rerumputan dan
pepohonan yang rindang. Aku masih saja sendiri. Menikmati senja.
“dan selama 40 tahun
aku hidup bersamanya, melihat senyumnya, menenangkan tangisnya, meredakan
marahnya. Itulah usaha yang aku lakukan. Aku adalah laki-laki yang tak pernah
rela melepaskan genggamannya. ”
Menua bersama, yapp,!! Setiap orang memimpikan itu, setiap
orang menginginkan hal itu. Bukan sekedar ucapan saling cinta tanpa sebuah
ikatan.
“Selama 40 tahun ini,
aku yang selalu membangunkan tidurnya, memasak untuknya, menemani kesedihannya,
mendampingi segala rutinitasnya, bahkan menyiapkan segala yang dibutuhkannya.
Aku adalah wanita yang tak pernah rela menyakitinya.”
Mereka yang terlihat sangat romantis adalah mereka yang
menua bersama, dengan penerimaan yang ikhlas, menjalani hidup dengan penuh rasa
syukur. Mereka yang dipertemukan dalam sebuah ikatan, dalam perjanjian, untuk
saling menerima, saling menjaga, saling membahagiakan.
Mereka yang romantis adalah mereka yang mampu membuat taman
sederhana menjadi cerita bahagia, mereka yang mampu menghiasi senja dengan
senyuman hangat, dan canda tawa luar biasa. Seperti melihat pelangi setelah
datangnya rintik hujan. Semua terlihat warna warni, memberikan kesan
tersendiri, yang pada hakikatnya mereka dalam satu warna, putih.
Jika saja esok masih ada hari, senja tak akan pernah lupa
untuk datang lagi. Menjadi latar cerita, entah masih dalam taman sederhana atau
mungkin di teras rumah dengan secangkir teh. Karena mereka tidak peduli latar
cerita hari esok, peran mereka akan selalu sama menjadi tokoh utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar