Senin, 03 Juli 2017

Menua Bersama



Senja, akan selalu terlihat sama, indah dan menghangatkan. Senja, akan selalu terasa sama, sebentar dan dirindukan. Senja yang tak pernah berhenti untuk dinantikan.

Pemandangan paling romantis yang membuatku iri. Di sebuah taman, tidak banyak bunga warna warni, tidak ada bunga mawar, tidak juga bunga teratai yang menghiasi danau. Hanyalah sebuah taman kecil dengan rerumputan dan pepohonan yang rindang. Aku masih saja sendiri. Menikmati senja.

“dan selama 40 tahun aku hidup bersamanya, melihat senyumnya, menenangkan tangisnya, meredakan marahnya. Itulah usaha yang aku lakukan. Aku adalah laki-laki yang tak pernah rela melepaskan genggamannya. ”

Menua bersama, yapp,!! Setiap orang memimpikan itu, setiap orang menginginkan hal itu. Bukan sekedar ucapan saling cinta tanpa sebuah ikatan.

“Selama 40 tahun ini, aku yang selalu membangunkan tidurnya, memasak untuknya, menemani kesedihannya, mendampingi segala rutinitasnya, bahkan menyiapkan segala yang dibutuhkannya. Aku adalah wanita yang tak pernah rela menyakitinya.”

Mereka yang terlihat sangat romantis adalah mereka yang menua bersama, dengan penerimaan yang ikhlas, menjalani hidup dengan penuh rasa syukur. Mereka yang dipertemukan dalam sebuah ikatan, dalam perjanjian, untuk saling menerima, saling menjaga, saling membahagiakan.

Mereka yang romantis adalah mereka yang mampu membuat taman sederhana menjadi cerita bahagia, mereka yang mampu menghiasi senja dengan senyuman hangat, dan canda tawa luar biasa. Seperti melihat pelangi setelah datangnya rintik hujan. Semua terlihat warna warni, memberikan kesan tersendiri, yang pada hakikatnya mereka dalam satu warna, putih.

Jika saja esok masih ada hari, senja tak akan pernah lupa untuk datang lagi. Menjadi latar cerita, entah masih dalam taman sederhana atau mungkin di teras rumah dengan secangkir teh. Karena mereka tidak peduli latar cerita hari esok, peran mereka akan selalu sama menjadi tokoh utama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar